Sebuah Prosa tentang Hitam dan Putih Palestina, karya sastra prosa Nabila Asyla

 



Sebuah Prosa tentang Hitam dan putih Palestina   

@smalaboratorium



Di bawah langit yang mulai mengabu di tanah yang kaya akan sejarah dan warisan, terletaklah Palestina.Sebuah negeri yang melahirkan kisah-kisah epik, musik yang menggetarkan jiwa, serta seni yang mempesona hati.Prosa budaya di Palestina adalah seperti meniti jalan berbatu yang penuh tantangan, namun tetap memancarkan keindahan dan kekuatan.Di kota tua Jerusalem ini, setiap jalan bercerita tentang masa lalu yang kaya dan sejarah yang menyentuh hati. Di tengah riuhnya pasar, Anda bisa mendengar riwayat-riwayat lama yang diwariskan dari generasi ke generasi, mengalir seperti sungai yang tak pernah kering. Setiap bangunan, setiap tembok, membawa beban kenangan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini.

Musik adalah denyut nadi Palestina, mengalir dalam setiap irama dan melodi. Dari suara lirih oud yang memikat hati hingga dentuman rebab yang menggetarkan jiwa, musik Palestina adalah cermin dari kehidupan dan perjuangan. Lagu-lagu rakyat yang diwariskan dari generasi ke generasi mengisahkan kisah keberanian, kehilangan, dan harapan akan masa depan yang lebih baik.Tarian adalah bahasa yang universal di Palestina, menggambarkan kegembiraan, kesedihan, serta semangat yang membara. Dalam gerakan-gerakan yang anggun dan penuh makna, tarian-tarian tradisional Palestina menceritakan cerita-cerita kuno yang melekat dalam jiwa rakyatnya. Setiap langkah adalah ungkapan dari kebanggaan akan identitas dan ketahanan yang tak terkalahkan.

Keindahan-keindahan tersebut kini mulai tergerus karna beberapa sebab.Membuat seluruh penjuruh dunia menatap mereka dengan hati penuh empati.Mereka masih menaruh sejuta harapan dan mimpi mimpi di kota tua itu inilah sepenggal sajak dari seorang anak yang menyimpan mimpi tersebut.Bajunya tak layak pakai,bibirnya biru sedikit bergetar,tanganya penuh tanah jemarinya susah bergerak.Sajak berdebu ini ditulis dibawah rerentuhan puing puing bangunan yang usang.Entah ia menulis karna menyimpan harapan atau karna kehilangan harapan?

 

 

Malam ini bintang-bintang tak berbunyi

langit terasa sunyi

Bulanpun bersembunyi

Namun mengapa telinganku berkicau sendiri?

Kampung halamanku tak menyukai sunyi

Ia terus menyelundupkan bunyi-bunyi,pada telingaku.

Tidakah ia tahu itu sangat menggangguku?

Seakan akan selalu merindu dengan ruhku

ia selalu memanggilku agarku tetap terjaga

aku lelah,biarkan ruhkhu meninggalkankanku sekejap saja.

 Terkadang aku mengerutkan dahiku

Hanya untuk sekedar bertanya-tanya

suara itu hanya ingin menjaga ruhku

tapi terkadang juga mereka seakan ingin mengambil ruhku untuk selama-lamanya

 

Pada malam ini,kembali kusujudkan dahi kepada illahi

Apakah kau bosan tuhan dengan pinta-pintaku yang masih sama?

Apakah kau lengah akan pinta-pintaku

Atau karna hanyalah diriku seorang manusia yang minim akan rasa sabar

 

Pintaku tidaklah sulit

Aku hanya ingin terbang bebas

seperti elang yang memiliki sayap lebar

Tanpa ada yang mengakimi,dan khawatir akan terjatuh

Terkadang pun tak perlu menjadi elang untuk bisa terbang tinggi

 

Tak perlu kata kata sastra indah lagi untuk menjelaskan kejamnya suara-suara culas dikotaku

Ledakan itu?sampai dimana aku menulis sajak ini,mereka masih terdengar jelas dimana mana

aku meenulis dengan pena yang sedikit basah

dan terdengar jelas suara ujung penaku yang beradu dengan meja kayu yang sudah rapuh

aku sedikit menahan tubuhku yang sudah lemah dan bergetar hebat agar sang culas tak dapat mendengarku

 

Kini Aku sekuat tenaga menahan air kesedihan dari mata kananku

seolah olah ia mengatakan "ayolah keluarkan saja,bukankah ini adalah hal yang biasa?"

aku menggertak dalam hatiku

tidakah ia tau betapa berharganya selembar kertas ini untuku? tak mungkin aku merusaknya denngan air mata usangku

hanya untuk menulis sajak ini saja aku melakukanya setengah mati.

Bagimana bisa aku membangun mimpi di tempat ini?

Tidakah suara culas itu mengerti banyak raga raga kecil yang memiliki mimpi tinggi dalam hidupnya?

Serentak aku menoleh pada raga lain di sisi ruangan ini

Raga itu jauh lebih kecil dariku dan kurus kerontang

Raga itu berbicara dengan suara serak seolah tak ada setetes airpun didalam tenggorokanya

ia berbicara dengan mata yang masih setengah terpejam

Lalu aku menatap teduh tubuhnya yang sudah kehilangan banyak lemak yang hanya menyisakan tulang yang dibalut oleh kulit tipis

"kak,apakah mereka sang culas pernah bermimpi untuk menjadi ironman atau spiderman?"

"mungkin" aku menjawanya singkat menyembunyikan suaraku yang sudah bergetar

pertanyaan konyol itu,aku tahu betul apa maksutnya

itulah mimpinya,mimpi seorag anak balita pada umumnya yang tak masuk akal

bibir pucat itu kembali berbicara

"aku takan bisa menjadi ironman kakak"

Hatiku tergoyah mendengar kalimat itu,karna aku tahu sekalipun mimpinya adalah hal yang masuk akal

ia tetap tak memiliki secercah harapun untuk mencapai mimpinya.

 

Ini sebuah prosa tentang warna terang yang tertutup cahaya malam.

Ini sebuah prosa tentang indahnya budaya yang tertutup puing-puing reruntuhan bangunan.

Ini tentang seorang yang gelisah dan tak ada arah.

Ini tentang seseorang yang kehilangan harapan.

Ini tentang seni yang mengambil sebuah tragedi.

Ini tentang perjuangan.

Ini tentang kemanusiaan.

Dan ini tentang harapan.

 

By : Nabila Asyla



Comments

Popular Posts